PENGENDALIAN KUALITAS

TEKNIK PENGENDALIAN KUALITAS

MODUL 1

KUALITAS DAN TEKNIK PENGENDALIAN KUALITAS

 

DOSEN

Ir.Amin Syukron, MT

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS MERCU BUANA

 

 

 

 

 

 

TEKNIK PENGENDALIAN KUALITAS

MODUL 1

KUALITAS DAN TEKNIK PENGENDALIAN KUALITAS

 

A.  TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah kuliah selesai mahasiswa diharapkan dapat memahami pengertian kualitas  serta kegunaanya

B.  MATERI PEMBAHASAN

  1. Pengertian Kualitas
  2. Konsep Kualitas Pada Industry Manufaktur Dan Jasa
  3. Biaya Kualitas Dan Nilai Kualitas
  4. Hubungan Kualitas, Produktivitas, Efisiensi Dan Penggunaan
  5. Teknik-Teknik Perbaikan Kualitas

C. SASARAN

Mahasiswa mengetahui dan memahami ruang lingkup pengendalian kualitas untuk industri manufaktur dan jasa

D. TUJUAN

Memberikan pengetahuan tentang pentingnya tata letak fasilitas dalam menciptakan sistem  manufaktur yang efisien dan prosedur yang sistematis untuk perancangannya. Memberikan kemampuan dalam menghitung kebutuhan fasilitas (mesin stasiun kerja dan fasilitas penunjang) dan luas lantai yang diperlukan oleh fasilitas tersebut. Memberikan kemampuan merancang tata letak fasilitas produksi baik secara manual dengan bantuan perangkat lunak. Memberikan kemampuan menggunakan metode kuantitatif untuk merancang tata letak fasilitas.

E. KOMPETENSI LULUSAN

Sarjana dengan kemampuan penerapan metoda atau cara terbaik dan penguasaan teknologi dalam  memecahkan masalah sistem integral di Industri melalui penerapan metodologi, alat analisis, prinsip-prinsip optimasi dan Industrial Expertize

 

 

TEKNIK PENGENDALIAN KUALITAS

MODUL 1

KUALITAS DAN TEKNIK PENGENDALIAN KUALITAS

Pengertian Kualitas

Karakteristik lingkungan dunia usaha saat ini ditandai oleh per­kembangan yang cepat di segala bidang yang menuntut kepiawaian mana­jemen dalam mengantisipasi setup perubahan yang terjadi dalam aktivitas ekonomi dunia. Ada tiga ciri gambaran perubahan yang banyak di­dengungkan untuk menghadapi lingkungan tersebut, yaitu kesementaraan, keanekaragaman, dan kebaruan. Kesementaraan antara lain ditunjukkan dengan semakin pendeknya umur suatu produk yang bukan disebabkan tidak berfungsinya produk tersebut secara teknis tetapi karena sudah ketinggalan jaman dengan adanya perkembangan teknologi, perubahan selera konsumen dan perubahan corak persaingan. Keanekaragaman terlihat dengan semakin banyaknya jenis produk yang beredar di pasar yang tidak terbatas pada consumer’s goods tetapi juga pada jenis teknologi yang ditawarkan. Selain itu, produsen maupun pelanggan secara umum, sering dihadapkan pada hal­hal baru yang tidak pernah bayangkan sebelumnya, teknologi baru, ilmu pengetahuan baru, produk dan jasa baru, gaya hidup baru, harapan-harapan baru, dan sebagainya.

Demikianlah, perubahan-perubahan yang cepat dalam era globalisasi saat ini akan membawa implikasi pada pengelolaan ekonomi nasional maupun operasi dunia usaha sebagai pelaku kegiatan ekonomi. Perubahan itu sendiri memang mengandung risiko karena ada kemungkinan keadaan yang diharapkan tidak dapat tercapai. Namun tidak jarang adanya kondisi yang tidak berubah atau terlambat berubah juga besar risikonya, bahkan lebih besar daripada risiko perubahan. Oleh karena itu, semakin banyak perusaha­an telah mengubah strateginya dari perusahaan yang berusaha menguasai sumber daya dalam negeri untuk menguasai pasar domestik ke perusahaan yang berusaha menemukan kombinasi optimal dari sumber daya lokal dan luar negeri untuk dapat bersaing baik di pasar domestik maupun pasar luar negeri. Dalam kondisi yang seperti ini, hanya produk dan jasa yang ber­kualitaslah yang akan memenangkan persaingan dan mempertahankan posisinya di pasar. Keberadaan produk dan jasa lokal dan nasional di suatu negara tidak akan luput dari tuntutan persaingan di samping juga mempunyai peluang untuk berkembang menjadi produk global dan membanjiri pasar lokal negara lainnya, sejauh persyaratan yang dituntut oleh pasar dipenuhi­nya.

Sementara itu, untuk menjaga konsistensi kualitas produk dan jasa yang dihasilkan dan sesuai dengan tuntutan kebutuhan pasar, perlu dilakukan pengendalian kualitas (quality control) atas aktivitas proses yang dijalani. Dari pengendalian kualitas yang berdasarkan inspeksi dengan penerimaan produk yang memenuhi syarat dan penolakan yang tidak memenuhi syarat sehingga banyak bahan, tenaga, dan waktu yang terbuang, muncul pemikiran untuk menciptakan sistem yang dapat mencegah timbulnya masalah mengenai kualitas agar kesalahan yang pernah terjadi tidak terulang lagi.

Kualitas memang merupakan topik yang hangat di dunia bisnis dan akademik. Namun demikian istilah tersebut memerlukan tanggapan secara hati-hati dan perlu mendapat penafsiran secara cermat. Faktor utama yang menentukan kinerja suatu perusahaan adalah kualitas barang dan jasa yang .dihasilkan. Produk dan jasa yang berkualitas adalah produk dan jasa yang sesuai dengan apa yang diinginkan konsumennya. Oleh karena itu organisasi/ perusahaan perlu mengenal konsumen atau pelanggannya dan mengetahui kebutuhan dan keinginannya. Ada banyak sekali definisi dan pengertian kualitas, yang sebenarnya definisi atau pengertian yang satu hampir sama .dengan definisi atau pengertian yang lain. Pengertian kualitas menurut beberapa ahli yang banyak kenal antara lain :

Juran (1962) “kualitas adalah kesesuaian dengan tujuan atau manfaatnya.”

Crosby (1979) “kualitas adalah kesesuaian dengan kebutuhan yang meliputi availability, delivery,  reliability, maintainability, dan cost effecti­veness.”

Deming (1982) “kualitas harus bertujuan memenuhi kebutuhan pelanggan sekarang dan di masa mendatang.”

Feigenbaum (1991) “kualitas merupakan keseluruhan karakteristik produk dan jasa yang meliputi marketing, engineering, manufacture, dan maintenance, dalam mana produk dan jasa tersebut dalam pemakai­annya akan sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggan.”

scherkenbach (1991) “kualitas ditentukan oleh pelanggan; pelanggan meng­inginkan produk dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan­nya pada suatu tingkat harga tertentu yang menunjukkan nilai produk tersebut.”

Elliot (1993) “kualitas adalah sesuatu yang berbeda untuk orang yang ber­beda dan tergantung pada waktu dan tempat, atau dikatakan sesuai dengan tujuan.”

Goetch dan Davis (1995) “kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berkaitan dengan produk, pelayanan, orang, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi apa yang diharapkan.”

Perbendaharaan istilah ISO 8402 dan dari Standar Nasional Indonesia (SNI 19-8402-1991), kualitas adalah keseluruhan ciri dan karakteristik produk atau jasa yang kemampuannya dapat memuaskan kebutuhan, baik yang dinyatakan secara tegas maupun tersamar. Istilah kebutuhan diartikan sebagai spesifikasi yang tercantum dalam kontrak maupun kriteria-kriteria yang harus didefinisikan terlebih dahulu.

Istilah kualitas memang tidak terlepas dari manajemen kualitas yang mempelajari setiap area dari manajemen operasi dari perencanaan lini produk dan fasilitas, sampai penjadwalan dan memonitor hash. Kualitas merupakan bagian dari semua fungsi usaha yang lain (pemasaran, sumber daya manusia, keuangan, dan lain-lain). Dalam kenyataannya, penyelidikan kualitas adalah suatu penyebab umum (common cause) yang alamiah untuk mempersatukan fungsi-fungsi usaha.

Selain itu, kualitas memerlukan suatu proses perbaikan yang terus­menerus (continuous improvement process) yang dapat diukur, baik secara individual, organisasi, korporasi, dan tujuan kinerja nasional. Dukungan manajemen, karyawan, dan pemerintah untuk perbaikan kualitas adalah penting bagi kemampuan berkompetisi secara efektif di pasar global. Perbaikan kualitas lebih dari suatu strategi usaha, melainkan merupakan suatu tanggung jawab pribadi, bagian dari warisan kultural, dan merupakan sumber penting kebanggaan nasional. Komitmen terhadap kualitas adalah suatu sikap yang diformulasikan dan didemonstrasikan dalam setiap lingkup kegiatan dan kehidupan, serta mempunyai karakteristik hubungan yang paling dekat dengan anggota masyarakat.

Demikianlah, konsep kualitas harus bersifat menyeluruh, baik produk maupun prosesnya. Kualitas produk meliputi kualitas bahan baku dan barang jadi, sedangkan kualitas proses meliputi kualitas segala sesuatu yang ber­hubungan dengan proses produksi perusahaan manufaktur dan proses penyediaan jasa atau pelayanan bagi perusahaan jasa. Kualitas harus di­bangun sejak awal, dari penerimaan input hingga perusahaan menghasilkan output bagi pelanggannya. Setiap tahapan dalam proses produksi maupun proses penyediaan jasa atau pelayanan juga harus berorientasi pada kualitas tersebut. Hat ini disebabkan setiap tahapan proses mempunyai pelanggan.

Hal ini berarti pelanggan suatu proses adalah proses selanjutnya, dan pemasok suatu proses adalah proses sebelumnya.

Konsep Kualitas pada Industri Manufaktur dan Jasa

Banyak ahli yang mendefinisikan kualitas yang secara garis besar orientasinya adalah kepuasan pelanggan yang merupakan tujuan perusahaan atau organisasi yang berorientasi pada kualitas. Dari beberapa definisi terdahulu, dapat katakan bahwa secara garis besar, kualitas adalah keseluruhan cirri atau karakteristik produk atau jasa dalam tujuannya untuk memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan. Pelanggan yang dimaksud di sini bukan .pelanggan atau konsumen yang hanya.datang sekali untuk mencoba dan tidak pernah kembali lagi, melainkan mereka yang datang berulang-ulang membeli dan membeli. Meskipun demikian, konsumen yang baru satu kali datang juga harus dilayani sebaik-baiknya, karena kepuasan pertama inilah yang akan membuat pelanggan datang dan datang lagi.

Secara umum dapat dikatpkan bahwa kualitas produk atau jasa itu akan diwujudkan bila orientasi seluruh kegiatan perusahaan atau organisasi tersebut berorientasi pada kepuasan pelanggan (Customer Satisfaction). Apabila diutarakan secara rinci, kualitas memiliki dua perspektif, yaitu perspektif  produsen dan perspektif konsumen, di rnana bila kedua hal tersebut disatukan maka akan dapat tercapai kesesuaian antara kedua sisi tersebut yang dikenal sebagai kesesuaian untuk digunakan oleh konsumen. Menurut Russel (1996). hal ini dapat digambarkan seperti dalam Gambar 1.1.

Apabila diperhatikan, maka kedua perspektif tersebut akan bertemu
pada satu kata “Fitness for Consumer Use”. Kesesuaian untuk digunakan
merupakan kesesuaian antara konsumen dengan produsen, sehingga
membuat suatu standar yang disepakati bersama dan dapat memenuhi
kebutuhan dan harapan kedua belah pihak. Kegiatan pengendalian kualitas
tidak hanya meliputi penetapan standar produk atau proses dari pihak
melainkan standar yang ditetapkan produsen tersebut juga harus
sesuai dengan spesifikasi atau toleransi yang ditetapkan oleh pihak konsumen.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.1 Dua Perspektif Kualitas

Selanjutnya, ada beberapa dimensi kualitas untuk industri manufaktur dan jasa. Dimensi ini digunakan untuk melihat dari sisi manakah kualitas dinilai. Tentu saja perusahaan ada yang menggunakan salah satu dari sekian banyak dimensi kualitas yang ada, namun ada kalanya yang membatasi hanya pada salah satu dimensi tertentu. Yang dimaksud dimensi kualitas tersebut, telah diuraikan oleh Garvin (1996) untuk industri manufaktur, meliputi:

Performance, yaitu kesesuaian produk dengan fungsi utama produk itu sendiri atau karakteristik operasi dari suatu produk.

Feature, yaitu ciri khas produk yang membedakan dari produk lain yang merupakan karakteristik pelengkap dan mampu menimbulkan kesan yang baik bagi pelanggan.

Reliability, yaitu kepercayaan pelanggan terhadap produk karena ke­
handalannya atau karena kemungkinan kerusakan yang rendah.

Conforrnance, yaitu kesesuaian produk dengan syarat atau ukuran tertentu atau sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar yang telah ditetapkan.

Durability, yaitu tingkat ketahanan/awet produk atau lama umur produk.

Serviceability, yaitu kemudahan produk itu bila akan diperbaiki atau kemudahan memperoleh komponen produk tersebut.

Aesthetic, yaitu keindahan atau daya tarik produk tersebut.

Perception, yaitu fanatisme konsumen akan merek suatu produk tertentu  karena citra atau reputasi produk itu sendiri.

Kualitas pada industri manufaktur selain menekankan pada produk yang dihasilkan, juga perlu diperhatikan kualitas pada proses produksi. Bahkan, yang terbaik adalah apabila perhatian pada kualitas bukan pada produk akhir, melainkan proses produksinya atau produk yang masih ada dalam proses (Work in Process), sehingga bila diketahui ada cacat atau kesalahan masih dapat diperbaiki. •Dengan demikian, produk akhir yang di­hasilkan adalah produk yang bebas cacat dan tidak ada lagi pemborosan yang harus dibayar mahal karena produk tersebut harus dibuang atau dilakukan pengerjaan ulang.

Selanjutnya, dengan perkembangan bidang usaha, maka organisasi atau perusahaan kini bukan hanya bergerak di bidang industri manufaktur, tetapi juga pada industri jasa, misalnya konsultan, pengacara, akuntan, pendidikan, dan sebagainya. Pengukuran kualitas pada industri jasa sulit sekali dilakukan karena karakteristik jasa pada umumnya tidak tampak. banyak sekali perbedaan antara industri manufaktur dengan industri jasa yang menurut Gaspersz (1997), karakteristik unik dari suatu industri jasal pelayanan yang sekaligus membedakannya dari barang antara lain

1. Pelayanan merupakan output tak berbentuk (intangible output) Pelayanan merupakan output variabel, tidak standar.

3. Pelayanan tidak dapat disimpan dalam persediaan, tetapi dapat di­konsumsi dalam produksi.

4. Terdapat hubungan langsung yang erat dengan pelanggan melalui proses pelayanan.

5. Pelanggan berpartisipasi dalam proses memberikan pelayanan.

6. Pelanggan sekaligus merupakan input bagi proses pelayanan yang di­terimanya.

7. Keterampilan personil “diserahkan” atau “diberikan” secara langsung kepada pelanggan.

8. Pelayanan tidak dapat diproduksi secara masal.

9. Membutuhkan pertimbangan pribadi yang tinggi dari individu yang memberikan pelayanan.

10. Perusahaan jasa pada umumnya bersifat padat karya.

11. Fasilitas pelayanan berada dekat lokasi pelanggan.

12. Pengukuran efektivitas pelayanan bersifat subyektif.

13. Pengendalian kualitas terutama dibatasi pada pengendalian proses.

14. Option penetapan harga lebih rumit.

Pengukuran kualitas untuk produk fisik tidak sama dengan industri jasa. walaupun demikian, ada beberapa dimensi yang digunakan dalam mengukur kualitas suatu industri jasa. Menurut Garvin (1996), dimensi kualitas pada industri jasa antara lain:

Communication, yaitu komunikasi atau hubungan antara penerima jasa dengan pemberi jasa.

Credibility, yaitu kepercayaan pihak penerima jasa terhadap pemberi jasa. Security, yaitu keamanan terhadap jasa yang ditawarkan.

Knowing the customer, yaitu pengertian dari pihak pemberi jasa pada penerima jasa atau pemahaman pemberi jasa terhadap kebutuhan dan harapan pemakai jasa.

Tangibles, yaitu bahwa dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan harus dapat diukur atau dibuat standarnya.

Reliability, yaitu konsistensi kerja pemberi jasa dan kemampuan pemberi jasa dalam memenuhi janji para penerima jasa.

Responsiveness, yaitu tanggapan pemberi jasa terhadap kebutuhan dan harapan penerima jasa.

Competence, yaitu kemampuan atau keterampilan pemberi jasa yang di­butuhkan setup orang dalam perusahaan untuk memberikan jasanya kepada penerima jasa.

Access, yaitu kemudahan pemberi jasa untuk dihubingi oleh pihak atau pelanggan atau penerima jasa.

Courtesy, yaitu kesopanan, respek, perhatian, dan kesamaan dalam hubungan personil.

 

Meningkatkan kualitas jasa yang ditawarkan tidak semudah usaha meningkatkan kualitas produk, karena karakteristiknya yang unik. Pening­katan kualitas jasa juga akan berdampak pada organisasi secara menyeluruh.

Biaya Kualitas

Setiap kegiatan yang dilakukan perusahaan pasti terkait erat dengan Biaya yang harus dikeluarkan perusahaan tersebut. Dalam paradigma baru dikatakan bahwa quality has no cost yang berarti kualitas tidak memerlukan biaya. Artinya untuk membuat suatu produk yang berkualitas perusahaan dapat melakukannya dengan cara rnenghilangkan segala bentuk pemborosan, yang hiasanya pemborosan ini disebabkan karena perusahaan menghasilkan produk yang ternyata cacat sehingga harus diadakan perbaikan atau harus dibuang.

Selanjutnya, dalam paradigma baru dikenal bahwa peningkatan kualitas pasti diiringi dengan peningkatan produktivitas. Mengapa demikian? Hal ini dapat terjadi apabila perusahaan berhasil menghilangkan pemborosan. dalam paradigma baru, kualitas tidak berdampak pada peningkatan biaya kualitas, bahkan akan menghemat biaya tersebut. Biaya yang dapat dihemat terutama yang merupakan biaya yang harus dikeluarkan karena perusahaan meng­hasilkan produk cacat. Namun demikian, biaya kualitas itu akan tetap ada bila perusahaan menganut paradigma lama. Dalam paradigma lama, dikatakan bahwa kualitas itu mahal. Untuk meningkatkan kualitas produk dan menurut paradigma lama, diperlukan biaya yang tidak sedikit jumlah­nya. Ada dua golongan besar biaya kualitas, yaitu biaya untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan biaya yang harus dikeluarkan karena meng­hasilkan produk cacat. Menurut Russel (1996), secara keseluruhan, biaya kualitas tersebut meliputi:

  1. Biaya urituk menghasilkan produk yang berkualitas (cost of achieving good quality) yaitu biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk Membuat produk yang berkualitas sesuai dengan keinginan pelanggan, meliputi:
  2. Biaya pencegahan (prevention costs) yaitu biaya untuk mencegah kerusakan atau cacat produk yang terdiri dari :
  • Biaya perencanaan kualitas (quality planning costs) yaitu biaya yang harus dikeluarkan untuk membuat perencanaan akan produk yang baik yang akan dihasilkan.
  • Biaya perancangan produksi (production design costs) yaitu biaya yang harus dikeluarkan untuk merancang produk sehingga produk yang dihasilkan benar-benar berkualitas.
  • Biaya pemrosesan (process costs) yaitu biaya yang harus di­keluarkan untuk dapat menjalankan proses produksi sehingga menghasilkan produk yang berkualitas.
  • Biaya pelatihan (training costs) yaitu biaya yang harus di­keluarkan untuk mengadakan pelatihan bagi karyawan sehingga karyawan bertanggung jawab untuk selalu membuat produk yang balk.
  • Biaya informasi akan kualitas produk yang diharapkan pelanggan (irrfonnatiorr costs) yaitu biaya yang harus dikeluar­kan untuk mengadakan survey pelanggan tentang kualitas produk yang diharapkan pelanggan.
  1. Biaya penilaian (appraisal costs) yaitu biaya yang harus dikeluarkan untuk mengadakan pengujian terhadap produk yang dihasilkan, meliputi:
  • Biaya untuk mengadakan inspeksi dan pengujian (inspection and testing costs), yaitu biaya yang harus dikeluarkan untuk mengadakan pengujian terhadap produk yang dihasilkan.
  • Biaya peralatan pengujian (test equipment costs) yaitu biaya yang harus dikeluarkan untuk pengadaan alat untuk pengujian terhadap kualitas produk.
  • t3iaya operator (operator costs) yaitu biaya yang dikeluarkan untuk memberikan upah pada orang yang bertanggung jawab dalam pengendalian kualitas.
  1. Biaya yang harus dikeluarkan karma perusahaan menghasilkan produk cacat (cost of poor duality), meliputi:
  2. Biaya kegagalan internal (intenurl failure costs) yaitu biaya yang harus dikeluarkan karma perusahaan telah menghasilkan produk yang cacat tetapi cacat produk tersebut telah diketahui sebelum produk tersebut sampai kepada pelanggan. Biaya ini meliputi:
  • Biaya yang dikeluarkan karma produk harus dibuang (scrap costs), yaitu biaya yang telah dikeluarkan perusahaan tetapi produk yang dihasilkan ternyata produk cacat sehingga harus dibuang dan adanya biaya untuk membuang produk tersebut.
  • aya pengerjaan ulang (rework costs), yaitu Biaya untuk mem­perbaiki produk yang carat.
  • Biaya kegagalan proses (process failure costs) yaitu Biaya yang harus dikeluarkan dalam proses produksi tetapi ternyata produk yang dihasilkan adalah produk carat.
  • Biaya yang harus dikeluarkan karena proses produksi tidak dapat bei jalan sebagaimana mestinya (process downtime costs).
  • Biaya yang harus dikeluarkan karena perusahaan terpaksa harus menjual produk di bawah harga patokannya karena produk yang dihasilkannya carat (price-downgrading costs)
  1. Biaya kegagalan eksternal (external failure costs) yaitu Biaya yang harus dikeluarkan karena menghasilkan produk carat dan produk ini telah diterima oleh konsumen, meliputi:
  • Biaya untuk memberikan pelayanan terhadap keluhan pelanggan (customer complaint costs).
  • Biaya yang harus dikeluarkan karena produk yang telah di­sampaikan kepada konsumen dikembalikan karena produk tersebut carat (product return costs).
  • Biaya yang harus dikeluarkan untuk menangani tuntutan konsumen terhadap adanya jaminan kualitas produk (warranty claims costs).
  • Biaya yang harus dikeluarkan karena perusahaan harus mem­berikan jaminan atau garansi bagi konsumen bahwa produk yang dihasilkan adalah baik (product liability costs).
  • Biaya yang harus dikeluarkan karena perusahaan tidak di­percaya oleh konsumen sehingga tidak mau lagi membeli produk ke perusahaan tersebut (lost sales costs).

Organisasi atau perusahaan yang ingin melihat biaya kualitas dan menggunaknnya  sebagai indikator kemajuan perbaikan kualitas dapat menggunakan laporan biaya kualitas yang bersifat umum seperti Tabel 1.1

Tabel 1.1 Bentuk umum Laporan Biaya Kualitas Bulanan

Biaya Kualitas dan Nilai Kualitas

Selama ini, kualitas seringkali hanya digambarkan sebagai konsep yang abstrak seperti bagaimana manajer suatu organisasi menentukan sasaran kualitas, dengan alat apakah manajer organisasi mengevaluasi pen­: apaian manajemen kualitas, apakah sumber daya yang mendukung kualitas Iapat dialokasikan secara lebih efisien, bagaimana tingkat pengembalian kualitas secara ekonomi ditentukan, dan masih banyak lagi.

Selanjutnya, apabila ditinjau kembali Biaya kualitas, sebenarnya ada sisi lain yang belum atau jarang ditinjau, yaitu nilai kualitas yang melekat pada produk atau jasa yang ditawarkan kepada pelanggan. Pelanggan yang mem­bayar produk atau jasa yang ditawarkan tentu mengharapkan akan men­dapatkan produk atau jasa yang kualitasnya sebanding dengan nilai yang telah mereka wujudkan dalam membayar harga produk atau jasa tersebut.nilai kualitas adalah indeks penilaian pelanggan, yang merupakan harga yang dibayarkan pelanggan atas hasil atau manfaat yang dirasakan karena kualitas produk atau proses sesuai dengan harapannya (Bester, 1999). Setiap pelanggan mempunyai nilai indeks yang berbeda-beda, berkaitan dengan kriteria obyektif dan subyektif yang dimilikinya. Dalam praktik, manajemen kualitas harus menyadari bahwa mereka secara nyata mengevaluasi produk­t:ivitas dan penjaminan bisnis seperti pada kualitas. Selain itu, biasanya nilai ,ualitas produk akan ditingkatkan untuk memperbaiki persepsi masyarakat, walaupun pada saat yang sama kualitas seringkali ditekan untuk meningkat­kan produktivitas. Biaya kualitas dan nilai kualitas dapat digambarkan seperti Gambar 1.2.

Gambar 1.2 Hubungan Biaya dan Nilai Kualitas

Dari Gambar 1.2 tersebut terlihat bahwa titik minimum kurva Biaya kualitas (cost of quality atau COQ) dicapai apabila jumlah Biaya pencegahan, penilaian, dan ketidaksesuaian baik internal maupun eksternal berada pada nilai optimum atau minimum. Nilai dari kurva kualitas di sisi lain, tidak me,miliki nilai optimum, tetapi lebih pada nilai akhir yang maksimum yang dicapai secara asimtot. Persimpangan kedua kurva tersebut merupakan wilayah optimum untuk merealisasikan manfaat ekonomis dari manajemen kualitas. Ukuran sampel dan banyaknya penerimaan produk dalam proses produksi merupakan faktor utama yang mempengaruhi COQ.

Sementara itu, dalam organisasi moderen khususnya yang mengadopsi metode penilaian COQ, perlu menggunakan proses manajemen berdasarkan sasaran. Dalam istilah kualitas dikenal dengan kualitas berdasarkan sasaran atau quality by objective (QBO). Menurut Bester (1999), metode QBO tersebut menggunakan tiga patokan, yaitu:

  • Manajer kualitas harus mempunyai komitmen untuk menentukan biaya sasaran kualitas. Berdasarkan sasaran tersebut, kontribusi yang pada keuntungan tiap tahun dapat diprediksi.
  • Sasaran kualitas secara menyeluruh merupakan serangkaian sasaran dan pencapaian masing-masing bagian Oleh karenanya perlu diadakan identifikasi secara tepat sasaran masing-masing bagian.
  • Masing-masing dan setup orang dari manajer yang mernegang fungsi kualitas harus mendukung pencapaian sasarannya untuk menjamin pencapaian sasaran kualitas secara menyeluruh.

 

Selanjutnya, menurut Bester (1999), QBO juga harus mencakup mpat komponen utama, yaitu:

  1. Jarak efektivitas kualitas, yang merupakan penentuan syarat-syarat yang dibutuhkan secara umum untuk basil yang berkualitas. Ukuran efek­tivitas manajemen dalam hal ini meliputi jarak efektivitas dari faktor­-faktor yang memberikan kontribusi pada investasi seperti desain kualitas, bahan baku yang berkualitas, proses produksi yang berkualitas, dan sebagainya serta jarak efektivitas dari hasil yang menyusun laba seperti kualitas produk, biaya kualitas, kepuasan pelanggan, dan sebagainya.
  2. Standar efektivitas kualitas, •yang merupakan alat dan kriteria di mana pencapaian kualitas dapat diukur.
  3. Sasaran kualitas, yang merupakan penentuan basil kualitas secara kuantitatif dan khusus yang dibutuhkan oleh manajer secara individu.
  4. Efektivitas manajemen kualitas, yang merupakan pengukuran di mana manajer berhasil dalam mencapai kualitas basil yang dibutuhkan.

Penentuan sasaran dalam QBO tersebut bersifat top-down, dari sasaran organisasi dijabarkan menjadi sasaran organisasi di bidang kualitas. Sasaran organisasi di bidang kualitas tersebut kemudian dijabarkan ke dalarn sasaran divisi, departemen, dan seksi-seksi, seperti bagian pemasaran harapan pelanggan, bagian perancangan kegiatan pencegahan risiko, bagian pembelian, kualifikasi bahan dan pemasok, bagian keuangan, mengukur dan melaporkan biaya kualitas, bagian personalia, pelatihan karyawan dan sertifiasi, bagian pelayanan, umpan balik statistik pada kinerja produk, dan sebagainya.

Hubungan Kualitas, Produktivitas, Efisiensi, dan Penggunaan

Sistem produksi bagi perusahaan manufaktur dan jasa dinilai dengan pengukuran efektivitas dan atau kinerjanya. Pengukuran efektivitas meliputi kemudahan dalam perawatan, kesiapan operasional, kertersediaan dan sebagainya. ­Sementara itu, pengukuran kinerja meliputi produktivitas, efisiensi, penggunaan, dan kualitas (Al-Darrab, 2000). Pengukuran umum produkti­vas mernang sangat erat dengan pengukuran efisiensi dan penggunaan. Namun pengukuran terbaru dalarn produktivitas telah melibatkan kualitas didalmnya. Menurut Shaw (1989), perbaikan produktivitas adalah lebih baik daripada sekedar mengadakan pengurangan karyawan, namun produktivitas dapat ditingkatkan dengan cara mengerjakan lebih banyak dengan sumber daya yang sama, mengerjakan lebih sedikit dengan pengurangan sumber daya yang lebih besar, atau mengerjakan lebih sedikit dengan mengkonsumsi sumber daya yang lebih sedikit (Al-Darrab, 2000).

Sementara itu, Omachnu dan Beruvides (1998) merumuskan produk­tivitas sebagai perbandingan output dengan input dikalikan dengan faktor kualitas atau:

Di mana:

Input = sumber daya yang digunakan

Output = basil yang dicapai

Faktor kualitas adalah skor atau nilai yang berkaitan dengan jaminan kualitas Faktor kualitas ini sering disebut dengan indeks kualitas yang merupakan tingkat kualitas yang dihitung berdasarkan persentase jawaban positif dari responden terhadap kualitas produk yang dihasilkan. Lebih jauh lagi, Lagasse (1995) menunjukkan adanya dua jenis produktivitas, yaitu produktivitas jenis I dan produktivitas jenis II. Produktivitas jenis I didefi­nisikan sebagai produktivitas tenaga kerja yang merupakan jenis produk­tivitas yang khusus disediakan bagi pelayanan. Sedangkan produktivitas jenis II merupakan bentuk yang lebih umum yang mentransformasikan semua output dan input ke dalam pengukuran produktivitas.

Pengukuran kinerja selanjutnya adalah penggunaan dan efisiensi. Penggunaan adalah persentase waktu di lingkungan kerja yang digunakan, atau dirumuskan oleh Al-Darrab (2000) menjadi:

Seringkali terjadi bahwa suatu departemen menggunakan 100 jam per minggu tetapi tidak mampu menghasilkan 100 jam kerja standar. Karyawan mungkin bekerja lebih cepat atau lebih lambat daripada standar kerja yang ditetapkan, sehingga efisiensi mencapai lebih dari 100%. Sementara itu, efisiensi dirumuskan oleh Al-Darrab (2000) dengan:

Oleh karena itu, kapasitas yang ada dapat dihitung sebagai waktu yang tersedia x penggunaan x efisiensi. Apabila dibuat tingkatan dalam pengukuran kinerja, maka tingkat pertama adalah kombinasi produktivitas, efisiensi, dan penggunaan, atau

Produktivitas = efisiensi x penggunaan

Sedangkan tingkat kedua, yang telah melibatkan kualitas dirumuskan dengan

Produktivitas = efisiensi x penggunaan x faktor kualitas

Selanjutnya, pengukuran produktivitas biasanya tidak membedakan antara output yang baik dan diterima dengan output yang buruk atau yang ditolak. Dalam pengukuran nilai produktivitas bersih, harus dipisahkan antara outpttt yang diterima dengan output yang ditolak (Bester, 1999). Oleh karenanya, produktivitas diformulasikan dengan output yang diterima/(total output + biaya-biaya non kualitas). Dari formulasi atau rumusan tersebut tampak bahwa untuk input dan ourput yang sama. produktivitas akan meningkat bila biaya non kualitas rendah dan akan turun bila biaya non kuaiitas meningkat. Untuk mengetahui nilai produktivitas bersih atau Net Vulue Productivit (NVP)menurut Bester (1999), digunakan rumus:

Atau

Gambar 1,3 Net Value Productivity

Dari Gambar 1.3 tersebut tampak bahwa semakin rendah kualitasnya, maka akan semakin banyak kerusakan yang terjadi dan biayanya rendah, atau sebaliknya. Semakin tinggi kualitasnya, memerlukan karyawan yang banyak atau yang ahli, sehingga biayanya tinggi. Nilai produktivitas akan mengalami peningkatan pada tingkat kualitas yang rendah, dan pada titik tertentu akan mengalami nilai produktivitas bersih maksimum sebelum akhirnya menurun.

 

Teknik-Teknik Perbaikan Kualitas

Manajemen Kualitas seringkali disebut sebagai the problem solving, sehingga manajemen kualitas dapat menggunakan metodologi dalam problem solving tersebut untuk mengadakan perbaikan (Ridman dan Zachary, 1993). Ada berbagai teknik perbaikan kualitas yang dapat digunakan dalam orga­nisasi. Teknik-teknik dasar yang dapat digunakan antara lain Diagram Pareto, histogram, lembar pengecekan (check sheet), analisis matriks, diagram sebab akibat, digram penyebaran (scatter diagram), diagram alur, run chart, diagram grier, tune series, stein-and-leaf plots, box plots, peta multi­variabel, peta pengendali (control chart), dan analisis kemampuan proses. Masing-masing teknik tersebut mempunyai kegunaan yang dapat berdiri sendiri maupun saling membantu antar satu teknik dengan teknik yang lain.

Diagram Pareto

Diagram Pareto diperkenalkan oleh seorang ahli yaitu Alfredo Pareto 1848-1923). Diagram Pareto ini merupakan suatu gambar yang mengurut­kan klasifikasi data dari kiri ke kanan menurut urutan rangking tertinggi hingga terendah. Hal ini dapat membantu menemukan permasalahan yang haling penting untuk segera diselesaikan (rangking tertinggi) sampai dengan masalah yang tidak harus segera diselesaikan (rangking terendah). Diagram Pareto juga dapat mengidentifikasi masalah yang paling penting yang mem­pengaruhi usaha perbaikan kualitas dan memberikan petunjuk dalam meng­slokasikan sumber daya yang terbatas untuk menyelesaikan masalah (Mitra, .993).

Selain itu, Diagram Pareto juga dapat digunakan untuk mem­~andingkan kondisi proses, misalnya ketidaksesuaian proses sebelum dan ~~-telah diambil tindakan perbaikan terhadap proses. Penyusunan Diagram Pareto sangat sederhana. Menurut Mitra (1993) dan Besterfield (1998), proses penyusunan Diagram Pareto meliputi enam langkah, yaitu:

  1. Menentukan metode atau arti dari pengklasifikasian data, misalnya ber­dasarkan  masalah, penyebab, jenis ketidaksesuaian, dan sebagainya.
  2. Menentukan satuan yang digunakan untuk membuat urutan karak­teristik-karakteristik tersebut, misalnya rupiah, frekuensi, unit, dan sebagainya.
  3. Mengumpulkan data sesuai dengan interval waktu yang telah ditentukan.
  4. Merangkum data dan membuat rangking kategori data tersebut dari yang terbesar hingga yang terkecil.
  5. Menghitung frekuensi kumulatif atau persentase kumulatif yang diguna­kan.
  6. Menggambar diagram batang, menunjukkan tingkat kepentingan relative masing-masing masalah.Mengidentifikasi beberapa hal yang penting untuk mendapat perhatian.

 

Gambar 1.4 Diagram Pareto

Penggunaan Diagram Pareto merupakan proses yang tidak pernah berakhir. Misalnya, dari Gambar 1.3 tersebut, masalah F merupakan target dalam program perbaikan. Apabila program tersebut berhasil, maka di waktu mendatang analisis pareto dilakukan lagi dan masalah C yang akan menjadi target dalam program perbaikan. Selanjutnya proses tersebut dilakukan hingga perbaikan dapat dilakukan secara menyeluruh. Secara keseluruhan, Diagram Pareto dapat dibuat dalam bentuk persentase yang merupakan tipe kesalahan kumulatif. Hal ini tampak seperti Gambar 1.5

Histogram

Histogram menjelaskan variasi proses, namun belum mengurutkan rangking dari variasi terbesar sampai dengan yang terkecil. Histogram juga menunjukkan kemampuan proses, dan apabila memungkinkan, histogram dapat menunjukkan hubungan dengan spesifikasi proses dan angka-angka nominal, misalnya rata-rata. Dalam histogram, garis vertikal menunjukkan banyaknya observasi tiap-tiap kelas. Menurut Mitra (1993), langkah penyusunan histogram adalah:

  • Menentukan batas-batas observasi, misalnya perbedaan antara nilai terbesar dan terkecil.
  • Ø Memilih kelas-kelas atau sel-sel. Biasanya, dalam menentukan banyaknya kelas, apabila n menunjukkan banyaknya data, maka banyaknya kelas ditunjukkan dengan √n.
  • Menentukan lebar kelas-kelas tersebut. Biasanya, semua kelas mem­punyai lebar yang sama. Lebar kelas ditentukan dengan membagi range dengan banyaknya kelas.
  • Menentukan Batas-Batas kelas. Tentukan banyaknya observasi pada masing-masing kelas dan yakinkan bahwa kelas-kelas tersebut tidak saling tumpang tindih.
  • Menggambar frekuensi histogram dan menyusun diagram batangnya.

 

Gambar 1.5 Diagram Pareto Kumulatif

 

Lembar Pengecekan (check sheet)

Tujuan pembuatan lembar pengecekan adalah menjamin bahwa data dikumpulkan secara teliti dan akurat oleh karyawan operasional untuk diadakan pengendalian proses dan penyelesaian masalah. Data dalam lembar pengecekan tersebut nantinya akan digunakan dan dianalisis secara cepat dan mudah. Lembar pengecekan ini memiliki beberapa bentuk seperti pada Gambar 1.7 dan Gambar 1.8. Contoh gambar histogram ada pada Gambar 1.6

  

Gambar 1.6 Histogram

 

 

  

Gambar 1.7 Check Sheet untuk Banyaknya Kesalahan

 

  

 

Gambar 1.8 Check Sheet Mingguan dalam Satu Bulan

Analisis Matriks 

Analisis matriks adalah suatu alat yang sederhana, tetapi efektif. Alat dapat berfungsi untuk membandingkan beberapa kelompok kategori seperti  operator, karyawan penjualan, mesin-mesin, pemasok, dan seterusnya. semua elemen dalam kategori tersebut melakukan kegiatan yang sama. Analisis matriks sering disebut dengan Diagram Pareto dua dimensi. Contoh gambar analisis matriks dapat dilihat pada Gambar 1.9

Gambar 1.9 Analisis Matriks

Pada Gambar 1.9 tersebut tampak bahwa ketidaksesuaian terkecil dilakukan oleh D, disusul oleh A, kemudian F dan seterusnya, dan yang terakhir adalah E. Apabila diamati dari kolom ketidaksesuaian, maka jenis ketidaksesuaian kelima merupakan ketidaksesuaian terbesar yang dialami oleh semua orang. Sedangkan ketidaksesuaian ketiga hanya thalami oleh C.

Diagram Sebab-Akibat 

Diagram sebab-akibat dikembangkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa pada tahun 1943, sehingga sering disebut dengan diagram Ishikawa. Diagram sebab-akibat menggambarkan garis dan simbol-simbol yang menunjukkan hubungan antara akibat dan penyebab suatu masalah. Diagram tersebut memang digunakan untuk mengetahui akibat dari suatu masalah untuk selanjutnya diambil tindakan perbaikan. Dari akibat tersebut kemudian dicari beberapa kemungkinan penyebabnya. Penyebab masalah ini pun dapat berasal dari berbagai sumber utama, misalnya metode kerja, bahan, peng­kuran, karyawan, lingkungan, dan seterusnya.

Selanjutnya, dari sumber-sumber utama tersebut diturunkan menjadi beberapa sumber yang lebih kecil dan mendetail, misalnya dari metode kerja dapat diturunkan menjadi pelatihan, pengetahuan, kemampuan, karakteristik fisik, dan sebagainya. Untuk mencari berbagai penyebab tersebut dapat digunakan teknik brainstorming dari seluruh personil yang terlibat dalam proses yang sedang dianalisis. Contoh gambar diagram sebab-akibat tampak pada Gambar 1.10

Dari Gambar 1.10 tersebut tampak bahwa diagram sebab-akibat mirip seperti tulang ikan, sehingga sering disebut dengan diagram tulang ikan (fishbone diagrarn). Manfaat diagram sebab-akibat tersebut antara lain :

a.  Dapat menggunakan kondisi yang sesungguhnya untuk tujuan per­baikan kualitas produk atau jasa, lebih efisien dalam penggunaan sumber daya, dan dapat mengurangi biaya.

  1. Dapat mengurangi dan menghilangkan kondisi yang menyebabkan ketidaksesuaian produk atau jasa dan keluhan pelanggan.
  2. Dapat membuat suatu standardisasi operasi yang ada maupun yang direncanakan.
  3. Dapat memberikan pendidikan dan pelatihan bagi karyawan dalam
    kegiatan pembuatan keputusan dan melakukan tindakan perbaikan.

 

Gambar l.l0 Cause and Effect Diagram

 

Selain digunakan untuk mencari penyebab utama suatu masalah, diagram sebab-akibat juga dapat digunakan untuk mencari penyebab minor yang merupakan bagian dari penyebab utamanya. Contoh untuk penggunaan ini dapat dilihat pada Gambar 1.11

Penerapan diagram sebab-akibat lainnya misalnya dalam menghitung banyaknya penyebab kesalahan yang mengakibatkan terjadinya suatu masalah, menganalisis penyebaran pada masing-masing penyebab masalah, dan menganalisis proses. Untuk menghitung penyebab kesalahan dilakukan dengan mencari akibat terbesar dari suatu masalah. dari akibat tersebut dijbarkan dalam beberapa penyebab utama, lalu dicari masing-masing penyebabnya secara mendetail.

Diagram Penyebaran (scatter diagram)

Scatter diagram merupakan cara yang paling sederhana untuk me­nentukan hubungan antara sebab dan akibat darn dua variabel. Langkah­-langkah yang diambil pun sederhana. data dikumpulkan dalam bentuk pasangan titik (x, y). Dari titik-titik tersebut dapat diketahui hubungan antara variabel x dan variabel y, apakah terjadi hubungan positif atau negatif. Misalnya hubungan antara kecepatan suatu kendaraan dengan keahlian si pengendara seperti pada Gambar 1.15 berikut.

Gambar 1.15 Scatter Diagram

 

Dari Gambar 1.15 tersebut dapat diketahui bahwa hubungan antara kecepatan kendaraan (X) dengan keahlian si pengendara (Y) adalah positif. Model-model scatter diagram dapat dilihat pada Gambar 1.16.

 

  

Gambar 1.16 Model Scatter Diagram

Diagram Alur

Diagram alur merupakan diagram yang menunjukkan aliran atau urutan suatu proses atau peristiwa. Diagram tersebut akan memudahkan dalam menggambarkan suatu sistem, mengidentifikasi masalah, dan melaku­kan tindakan pengendalian.Diagram alur juga menunjukkan siapa pelanggan masing-masing tahapan proses. Diagram tersebut akan lebih baik apabila disusun oleh suatu tim, sehingga dapat diketahui serangkaian proses secara jelas dan tepat. Tindakan perbaikan dapat dicapai dengan pengurangan atau penyederhanaan tahapan proses, pengkombinasian proses, atau membuat frekuensi terjadinya langkah atau proses lebih efisien. Gambar diagram alur dapat dilihat pada Gambar 1.17

  

Gambar 1.17. Flowchart

Run Chart

Run chart adalah penggambaran karakteristik kualitas sebagai fungsi dari waktu. Gambar tersebut tidak merangkum berbagai informasi, tetapi memberikan berbagai ide dari kecenderungan secara umum dan tingkat variabilitas proses. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 1.18

  

Gambar 1.18 Run Chart

 

 

 

  

Gambar 1.19 Diagram Grier

 

Diagram Grier

Diagram grier dikembangkan oleh Ted Grier yang digunakan untuk membandingkan ketidaksesuaian pada berbagai model dalam produk yang sama. cara pengumpulan datanya sama dengan cara pengumpulan data pada pembuatan Diagram Pareto. Sumbu vertikal menggambarkan persentase ketidaksesuaian dan sumbu horisontal menggambarkan ketidaksesuaian yang terjadi. hal ini tampak pada Gambar 1.19

Time Series

Time series merupakan teknik yang paling sederhana untuk me­nunjukkan perubahan karena berbagai macam faktor dari waktu ke waktu. Time series digambarkan dengan sumbu vertikal yang menunjukkan per­esentase ketidaksesuaian dan sumbu horisontal yang menunjukkan periode waktu. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 1.20.

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.20 Time Series

Dart Gambar 1.20. tersebut tampak bahwa kualitas produk A berada pada kondisi yang konstan, sedangkan kualitas produk B mengalami nerubahan yang dalam hal ini adalah mengalami penurunan secara drastis.

 

Stem-and-Leaf Plots

Stem-and-leaf plots adalah pendekatan secara grafts yang menempatkan observasi dan mendapatkan interpretasi dari karakteristik proses. Dengan histogram, identitas data observasi individu akan hilang, sementara dalam steam-and-leaf plots nilai angka numerik tetap ada. Dalam penggambaran histogram, keputusan harus dibuat sesuai dengan kelas dan lebar kelas. Misalnya, pengukuran diameter suatu produk yang berkisar antara 499 mm hingga 500 mm.

Setup data berukuran 499 atau 500 dengan modifikasi pada angka decimalnya. Tanda * menunjukkan angka 0 dan 1 pada akhir nilai di belakang koma, tanda t menunjukkan angka 2 dan 3 pada akhir nilai di belakang koma, tanda f untuk angka 4 dan 5 pada akhir nilai di belakang koma, tanda s untuk angka 7 dan 8 pada akhir nilai di belakang koma, dan tanda # menunjukkan angka 9 pada akhir nilai di belakang koma. Nilai 500,04 mempunyai 500 sebagai stem dan 4 sebagai leaf. Adapun contoh gambar stem-and-leaf plots dapat dilihat pada Gambar 1.21

Gambar 1.21 Steam-and-Leaf Plots

 

Box Plots

Box plots menunjukkan kecenderungan memusat, penyebaran data, dan memberikan petunjuk adanya kecenderungan (penyimpangan dari kesamaan atau simetri) dan kurtosis (ukuran panjangnya ekor). Dari plots tersebut, suatu penjelasan dilakukan apabila ada basil observasi yang ber­beda. menurut Mitra (1993), langkah-langkah pembuatan box plots adalah:

  • Ø Menentukan kuartal pertama Q1 = 25 %. Nilai ini menunjukkan batas terendah dari suatu box.
  • Menentukan kuartal ketiga Q3 = 75 %. Nilai ini merupakan batas tertinggi dari suatu box. Panjang box adalah selisih atau perbedaan antara Q3 dan Q1, yang dikenal dengan interquartile range (iqr).
  • Menentukan nilai tengah dari seluruh data tersebut. Garis meng­ambarkan nilai tengah yang membagi box tersebut.
  • Ø Menggambarkan dua garis yang dimulai dari atas kemudian turun ke bawah ke arah Q3 untuk nilai data maksimum atau Q3 + 1,5 (iqr). Demikian pula ditarik juga garis dari bawah ke arah Q1 untuk nilai data minimum atau Q1 – 1,5 (iqr).
  • Nilai-nilai yang berada di luar nilai-nilai tersebut dikatakan berada di 1 uar daerah Batas.

Contoh data dan penggambaran box plots dapat dilihat pada Gambar 1.22

Gambar 1.22 Box Plots

Peta Multivariabel

Pada berbagai kegiatan operasi perusahaan manufaktur atau jasa ada beberapa variabel atau atribut untuk menentukan akibat kualitas pelayanan atau kualitas produk. hat ini akan tampak apabila digunakan peta multi­variabel yang dapat menggambarkan pengumpulan informasi tersebut. Hal ini tampak pada Gambar 1.23

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.23 Peta Multivariabel

 

Peta Pengendali (control chart)

Peta pengendali menggambarkan perbaikan kualitas. Perbaikan kualitas terjadi pada dua situasi. Situasi pertama adalah ketika peta kendali dibuat, proses dalam kondisi tidak stabil. Kondisi yang di luar Batas kendali terjadi karena sebab khusus (assignable cause), kemudian dicari tindakan perbaikan sehingga proses menjadi stabil. Hasilnya adalah adanya perbaikan proses.

Kondisi kedua berkaitan dengan pengujian. Peta pengendali tepat bagi pengambil keputusan karena model akan melihat yang baik dan yang buruk. Peta kendali memang tepat dalam penyelesaian masalah melalui perbaikan kualitas, walaupun ada kelemahan apabila digunakan untuk memonitor atau mempertahankan proses. Contoh gambar peta kendali tampak pada Gambar 1.24 dan Gambar 1.25

Gambar 1.24 Control Chart

Gambar 1.25 Control Chart

Kemampuan Proses

Manajemen mempunyai tanggungjawab memberikan jaminan bahwa proses layak atau memenuhi spasifikasi. Proses dapat dikatakan stabil dan dapat diprediksi telah digambarkan dengan peta kendali, namun masih sering menimbulkan pemborosan. Pengukuran kemampuan proses disebut dengan indeks kemampuan atau Cp, yang merupakan variabel yang melengkapi variabel-variabel peta kendali. Nilai Cp minimal 1,33. Selain itu, dapat juga dengan menentukan target atau nilai nominal atau nilai Cpk. Nilai Cpk minimum adalah 1,00. Bila nilai Cp ≥ 1,33 dan nilai Cpk  ≥ 1,00, maka proses dikatakan telah terfokus, stabil, dan dapat diprediksi.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: